Kita Tidak Tahu Bahwa Kita Miskin

adminiibf

Bandung, 13/11/2011. Purnawirawan bintang dua TNI itu tak kuasa menahan haru. Dengan kata-kata yang tersekat dia terus melanjutkan kalimatnya. Setelah dapat menguasai diri dia berujar, “Tolong sampaikan ke menteri yang lain di kabinet tentang apa-apa yang telah dijelaskan oleh mas Heppy tadi,” katanya kepada Wakil Menteri ESDM, Prof. Widjajono Partowidagdo. Prof. Widjajono sendiri adalah salah satu dari tiga pembicara yang dihadirkan dalam sarasehan Keluarga Besar Marhaenis di hotel Panghegar Bandung, Minggu siang. Pemicara lain dalam sarasehan yang bertajuk “Implementasi Trisakti” itu adalah Prof. Endang Tjaturwati dan Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom.

Purnawirawan TNI itu dulunya adalah Kepala Sekolah Perwira TNI. Dia hadir di sarasehan itu adalah sebagai bagian dari Keluarga Besar Marhaenis. “Saya bangga ternyata di sini ada seorang insinyur muda yang memiliki semangat dan pembelaan untuk membebaskan bangsanya,” katanya mengomentari. Insinyur itu,lanjutnya, bukan berasal dari partai politik ataupun birokrat tetapi adalah seorang pengusaha yang dengan keyakinannya berupaya untuk menyadarkan dan mengobarkan semangat nasionalisme. “Saya sangat terharu karena masih ada seorang anak muda yang memiliki semangat pembelaan terhadap bangsa dan negara ketika banyak orang-orang dalam posisi yang seharusnya lebih mementingkan kepentingan bangsanya justru tidak peduli,” katanya dengan suara tertahan.

Heppy yang berbicara tentag kemandirian ekonomi itu menjelaskan tentang bagaimana tidak berdayanya Indonesia terhadap kekuatan asing. “Jangankan pesawat terbang atau teknologi tinggi lainnya, garampun kita sudah tidak bisa menguasainya,” katanya memberi contoh. Begitu tidak berdayanya Indonesia sehingga orang asing berbuat semaunya menguasai pasar dan sumber alam milik negara ini. Indonesia menjadi negara miskin bukan karena sumber daya alamnya yang sedikit tetapi karena bermain sebagai bangsa miskin. “Tadi Prof. Widjajono mengatakan cadangan minyak kita sangat terbatas, Singapura lebih sangat terbatas lagi tetapi mengapa nilai ekspor negara itu bisa dua kali lipat negara kita?” tanya Heppy.

Kemiskinan di Indonesia saat ini sudah masuk di institusi penyelanggara negara. Indonesia sudah tidak mampu membeli peralatan baru untuk tentaranya, subsidi untuk pendidikan, subsidi petani dan lain-lain. “Rakyat Indonesia tidak ingin melihat tentaranya menggunakan alat-alat bekas. Tentara yang kuat itu bukanlah tentara yang berperang dengan peralatan bekas atau hibah dari orang lain, tetapi adalah tentara yang menggunakan peralatan yang dibuat sendiri,” jelas Heppy. Mengapa bekas? Karena kita sudah tidak mampu membeli peralatan baru akibat kita miskin. Sebuah keadaan yang tidak difahami oleh bangsa ini. Karena selama ini kemiskinan hanya dilihat pada pemukiman kumuh dan kolong jembatan. Padahal kemiskinan Indonesia sudah merangsek ke institusi penyelenggara negara.

Sebelumnya Prof. Widjajono menceritakan tentang banyaknya perusahaan-perusahaan minyak dan tambang asing yang beroperasi di Indonesia dan rumitnya kontrak karya dengan perusahaan-perusahaan itu. Namun ahli perminyakan ITB itu tidak menjelaskan tentang langkah konkrit untuk menata korporasi asing itu. Dia lebih banyak memaparkan tentang angka-angka tentang data perminyakan di Indonesia. “Saat ini negara harus menyisihkan 200 triliyun untuk subsidi minyak saja. Dan jika subsidi ditiadakan maka uang itu dapat dialihkan untuk dialokasikan ke sektor yang ebih produktif,” katanya.

Sementara itu Prof. Endang Tjaturwati menyorot tentang hilangnya budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ajaran-ajaran tentang kehalusan budi dan keluhuran budaya sudah jarang ada di masyarakat kita. “Saya ini pengajar sastra Sunda di Unpad, mahasiswanya hanya 3 orang, Itupun bukan orang Sunda tapi orang asing,” kata Endang prihatin. Semua daerah di Indonesia, kata Endang memiliki ajaran, ajaran dan kearifan lokal sendiri yang sangat khas dan memperkaya budaya Indonesia. Sayangnya sebagian besar budaya-budaya itu sudah terkikis dan tidak hidup lagi dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. (AA)

Tags

Related Post

Leave a Comment