Pelajaran Kapasitas Diri dari Makkah: Kisah Joko Kris dan Wejangan Pak Heppy

adminiibf

Malam itu, Kota Makkah bersinar dengan keagungan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dari ketinggian Zam Zam Tower, cahaya Ka’bah memantul ke langit, menciptakan suasana sakral yang meresap hingga ke hati. Di tengah suasana itu, seorang pebisnis muda asal Malang, Joko Kris, duduk bersama istrinya, bersiap untuk sebuah makan malam istimewa—makan malam yang kelak mengubah cara pandangnya tentang hidup dan bisnis.

Pertemuan malam itu bukan sekadar jamuan biasa. Mereka berkumpul bersama sosok yang sudah lama dikagumi Joko, seorang mentor yang telah membina banyak pebisnis Indonesia: Presiden IIBF, Bapak Heppy Trenggono.

Kapasitas Diri: Modal Terbesar Seorang Pebisnis

Di tengah hidangan yang tersaji dan percakapan hangat yang mengalir, Pak Heppy menyampaikan sesuatu yang tampak sederhana namun berdampak besar.

“Kapasitas diri itu modal terbesar seorang pebisnis. Mental, spiritual, intelektual—itu yang menentukan sejauh mana bisnis kita tumbuh. Bisnis kita tidak akan pernah melampaui kapasitas kita sendiri.”

Kalimat itu membuat Joko terdiam. Ada sesuatu dalam perkataan itu yang menggugah hatinya. Seolah-olah kalimat itu menyingkap kegelisahan yang selama ini ia simpan: rasa stagnan, tekanan target, dan asa yang sering kali terasa berat. Malam itu, ia mendapatkan jawabannya.

Bahwa yang perlu ia besarkan bukan hanya omzet atau jaringan bisnis, tapi dirinya sendiri.

Sentuhan Kemanusiaan Seorang Mentor

Dalam perbincangan itu, Pak Heppy juga menyinggung bahwa beberapa minggu sebelumnya ia sempat sakit. Joko tertegun. Ia menyadari, sosok panutan yang selama ini ia jadikan rujukan sudah memasuki usia senja. Waktu bersama beliau tidak akan selalu tersedia.

“Ilmu itu ada sanadnya,” kata Pak Heppy. “Selama Allah masih kasih kesempatan belajar, ambillah.”

Joko menatap istrinya. Ada haru yang tidak ia ucapkan, tetapi ia rasakan. Kesempatan makan malam ini terasa seperti hadiah dari langit—sebuah momentum untuk melihat diri lebih jernih.

Momen Titik Balik di Kota Suci

Setelah makan malam usai, Joko dan istrinya melangkah keluar. Angin malam Makkah menyapa lembut, dan dari kejauhan, Ka’bah berdiri tegak memancarkan ketenangan.

Di titik itu, Joko merasakan sesuatu mengalir dalam dirinya—tekad baru.

Ia sadar bahwa dirinya harus tumbuh lebih besar jika ingin melihat bisnisnya berkembang.

Bahwa:

  • Ia harus memperkuat mentalitas sebagai pebisnis,
  • Menjaga spiritualitas agar tetap kokoh dalam ujian,
  • Dan memperluas kapasitas intelektual melalui belajar tanpa henti.

Ia kini memahami bahwa peluang hanya datang kepada orang yang siap menampungnya. Ruang itu harus diciptakan dengan memperbesar kapasitas diri, bukan sekadar menunggu keadaan berubah.

Refleksi yang Menjadi Awal Baru

Malam itu, di bawah gemerlap Makkah, Joko memandang Ka’bah dengan hati yang penuh syukur. Pertemuan tadi bukan kebetulan. Ia percaya Allah menuntunnya untuk duduk di meja yang tepat, bersama guru yang tepat, pada waktu yang tepat.

Dalam hati, ia berkata kepada istrinya:

“Pertemuan ini adalah tanda. Mulai hari ini, aku akan memperbesar kapasitas diriku. Karena bisnis hanya akan tumbuh sejauh aku tumbuh.”

Dan demikianlah, makan malam sederhana itu menjadi titik balik—membangunkan Joko untuk kembali menata diri, memperkuat karakter, dan terus bertumbuh tanpa henti. Sebab ia kini mengerti bahwa pertumbuhan bisnis selalu dimulai dari pertumbuhan pribadi.

Tags

Related Post

Leave a Comment