Pengusaha IIBF Dorong Puluhan Difabel Kreatif Malang Mandiri Berwirausaha lewat Program CYOF 2025

adminiibf

MALANG, Tugujatim.id — Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Malang Raya kembali mengadakan program “Create Your Own Future” (CYOF) di Masjid Asy Syafaat, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu pagi (13/07/2025). Program CYOF kali ini berlangsung istimewa karena diikuti puluhan anggota Difabel Kreatif Malang (DKM) yang diajari mandiri dengan berwirausaha.

Untuk diketahui, CYOF merupakan program pelatihan soft skill dan kewirausahaan yang diinisiasi oleh Heppy Trenggono, pendiri IIBF. Tujuan program ini adalah menumbuhkan jiwa entrepreneur agar menjadi pribadi yang mandiri di masa depan.

CYOF IIBF.
Flyer CYOF spesial edisi bersama difabel di Malang. (Foto: dok IIBF)

Menariknya, acara CYOF spesial difabel kali ini menghadirkan pemateri-pemateri inspiratif yang telah sukses mengembangkan usahanya. Kegiatan ini menghadirkan tiga sesi materi dengan pemateri dan topik yang berbeda.

Sesi pertama menghadirkan Ketua IIBF Kota Malang Odea Putranto ST yang membawakan materi berjudul “3 Kunci Sukses”. Sesi kedua, pengusaha fashion sekaligus owner dari Nura Store Lucky Ajeng dan owner Ayam Kisanak Malang Joko Kris Busono yang berbagi pengalaman serta motivasi. Dan sesi ketiga, ada Founder & CEO Makeit! Social Media & Marketing Agency Ibnu Angga Handaru.

Rahasia Kunci Sukses

Dalam sesi pertama, Ketua IIBF Kota Malang Odea Putranto ST mengajak peserta untuk menyusun rencana dan merancang masa depan mereka melalui tiga langkah utama yaitu dengan merencanakan goals, menuliskan dan membaca goals tersebut secara rutin, dan terakhir mengevaluasinya.

IIBF dan Difabel Kreatif Malang.
Ketua IIBF Kota Malang Odea Putranto ST saat menyampaikan materi di hadapan peserta, Minggu (13/07/2025). (Foto: Azmi Azaria Fidaroini/Tugu Jatim)

Selain itu, Odea juga mengajak peserta untuk menulis 40 goals para peserta dan mencatatnya dalam buku yang telah disiapkan. Untuk 40 goals ini harus mengandung Be, Have, dan Do. Artinya be, peserta harus menuliskan 40 impian ingin menjadi apa? Sedangkan Have, peserta harus menulis 40 impian ingin memiliki apa? Dan Do, peserta menuliskan 40 hal apa yang ingin dilakukan. Metode ini bertujuan agar peserta selalu mengingat tujuan hidup mereka dan tetap fokus untuk meraihnya.

“Jadi, setiap hari bapak ibu buka buku catatan itu akan ingat terus, tujuannya hidupnya apa, goalnya apa, dan lakukan evaluasi jika sudah dilakukan. Itu nanti yang akan kita wujudkan sebagai pengingat impian-impian kita,” ucapnya saat menerangkan materi.

Sharing Bareng Pengusaha Sukses dari Blitar-Mojokerto

Untuk sesi kedua, pengusaha fashion sekaligus owner dari Nura Store Lucky Ajeng dan owner Ayam Kisanak Malang Joko Kris Busono. Keduanya merupakan pengusaha yang sudah sukses yang membagikan kisah inspiratifnya kepada peserta CYOF dari Difabel Kreatif Malang.

Dalam pemaparannya, owner dari Nura Store Lucky Ajeng menceritakan kisah inspiratifnya bahwa dia sempat ingin mengambil sekolah tata busana tetapi akhirnya gagal karena alasan tinggi badan yang tidak memenuhi syarat. Akhirnya, dia mengambil jurusan tata boga hingga membawanya masuk ke dunia kerja.

Beruntung, dia mendapatkan pekerjaan di Surabaya selama 6 tahun di bidang pembuatan roti. Meski dalam kondisi keterbatasan fisik dan tenaga, dia membuktikan mampu untuk bekerja.

Namun, Ajeng memilih jalan lain dengan berwirausaha. Dia mulai ingin menjalankan bisnisnya sendiri agar bisa bekerja dari rumah sekaligus menemani ayahnya yang sedang sakit.

“Setelah dewasa ini, saya menyadari kalau emang ada lingkup yang bisa dikendalikan dan ada lingkup yang tidak bisa kita kendalikan. Lingkup yang bisa dikendalikan adalah membangun usaha, sedangkan lingkup yang tidak bisa dikendalikan adalah soal penghasilan usaha tiap bulan yang terkadang tidak menentu,” tuturnya.

Ajeng juga menjelaskan bagaimana dia mempraktikkan metode penulisan goals waktu mengikuti program CYOF sebelumnya hingga bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Menurut dia, menulis goals dapat menjadi sumber motivasi dan mengarahkannya ke tujuan yang diinginkannya. Contohnya saat dia ingin mengembangkan bisnis dengan ada tim sebagai karyawan.

“Nah, saat itu saya tuh ingin profit Rp8 juta. Nanti kalau misalkan sudah profit Rp8 juta, saya mau rekrut satu karyawan dan ternyata terwujud,” ujarnya.

Difabel Kreatif Malang.
Pengusaha fashion sekaligus owner dari Nura Store Lucky Ajeng (tengah) dan owner Ayam Kisanak Malang Joko Kris Busono (kaus putih) saat berbagi pengalaman dan motivasi. (Foto: Azmi Azaria Fidaroini/Tugu Jatim)

Sedangkan owner Ayam Kisanak Malang Joko Kris Busono membagikan kisah suksesnya membangun usaha di bidang kuliner. Dari dulu, dia mengatakan, orang tuanya sudah mengajarkan untuk mandiri dan bermental kaya.

Dari nasihat orang tuanya inilah yang mendorong pria asal Mojokerto ini untuk terus berusaha hingga berhasil di bidang usaha kuliner hingga menjadi owner Ayam Kisanak.

“Jadi kalau orang tua saya itu ngajarkan, kita ini orang kaya. Walaupun nggak punya uang. Kalau masalah kita posisi nggak ada uang, ini hanya masalah situasi aja,” ujarnya.

Dia juga berpesan keterbatasan itu bukan halangan, kesuksesan kita semua punya modal, yaitu impian dan waktu.

“Semua kesuksesan butuh proses. Modalnya, impian dan waktu, itu kuncinya!” ujarnya.

3 Hal Pengingat sebagai Wirausahawan

Acara sesi ketiga dilanjutkan membahas tentang dream board bersama Founder & CEO Makeit! Social Media & Marketing Agency Ibnu Angga Handaru. Dalam sesi ini, dia mengajak peserta untuk memvisualisasikan impian mereka agar lebih mudah diingat dan dijadikan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Ibnu Angga Handaru menyampaikan bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari dan diselesaikan selama seseorang mau berproses.

“Ada mantra yang kami pegang. Pertama, semua pasti bisa. Kedua, semua bisa dipelajari. Dan yang ketiga, semua pasti ada solusinya,” jelasnya.

IIBF Malang Raya.
Founder & CEO Makeit! Social Media & Marketing Agency Ibnu Angga Handaru (baju abu-abu) dan para alumni CYOF saat berbagi pengalaman. (Foto: Azmi Azaria Fidaroini/Tugu Jatim)

Dalam sesi materi ini, alumni CYOF juga menceritakan pengalaman mereka setelah mengikuti program CYOF sebelumnya. Mereka menceritakan pengalamannya dan bagaimana ilmu yang didapatkan telah berhasil mengubah cara berpikir dan membuka peluang usaha.

Sementara itu, salah satu peserta CYOF dari Difabel Kreatif Malang bernama Gatot Suprianto juga mengungkapkan bahwa program ini sangat bermanfaat, terutama mengenai bidang wirausaha. Dia juga merasa pengalaman untuk praktik langsung di lapangan juga menjadi pengalaman baru yang menyenangkan.

“Dengan keterampilan yang kami miliki, yang kami punyai, mungkin komunikasi sama pembeli atau siapa gitu ya itu ternyata asyik juga,” terangnya.

IIBF gelar CYOF 2025.
Salah satu peserta Difabel Kreatif Malang bernama Gatot Suprianto saat praktik dengan menjual produk jamu di Kayutangan Heritage, Kota Malang, Minggu (13/07/2025). (Foto: Azmi Azaria Fidaroini/Tugu Jatim)

Dia juga berharap agar kegiatan seperti ini dapat menjangkau daerah dan komunitas yang lebih luas, tidak hanya terbatas di Kota Malang.

“Kalau nantinya terus berat lanjut mungkin lebih luas lagi, ya. Bukan di Malang saja, tapi di seluruh daerah yang  juga membutuhkan,” harapnya.

Setelah seluruh sesi materi selesai, panitia membagi peserta ke dalam beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok didampingi oleh alumni CYOF untuk langsung praktik berwirausaha di kawasan wisata Kayutangan Heritage, Kota Malang.

Sumber: https://tugujatim.id/iibf-ajak-difabel-kreatif-malang-wirausaha-lewat-cyof/

Tags

Related Post

Leave a Comment