Setelah Pasar, Industri Juga Harus Dibangun

adminiibf

Sumedang, 14/10/2011. Pemimpin gerakan Beli Indonesia, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom melakukan kunjungan ke beberapa pabrik di Jakarta dan Jawa Barat. Di Sumedang, kunjungan dilakukan di sebuah pabrik Dairy Product (produk berbahan dasar susu) yang memproduksi keju, butter dan yoghurt. Harun, Mananging Director perusahaan itu, dalam presentasinya mengatakan saat ini hampir semua dairy product yang dijual di Indonesia diproduksi oleh perusahaan asing. Padahal pasarnya sebesar Rp. 150 Triliyun per tahun dan terus berkembang setiap tahunnya. “Problem dairy produk ini memang bahan baku, susunya sendiri. Beberapa sentra produksi susu di ndonesia sudah dikuasai oleh beberapa perusahaan asing di Indonesia,” katanya. Disamping memang kulalitas dan kuantitas produknya sendiri. Itu sebagai akibat dari pasokan gizi dalam pakan sapi yang tidak memenuhi standar nutrisi. Sebagai perbandingan, kata Harun, seekor sapi di New Zeland bisa menghasilkan susu 35 liter/ hari. Di Indonesia dapat mencapai 12 liter saja sudah sangat bagus karena rata-rata hanya 8 liter. Padahal untuk BEP minimal seekor sapi harus menghasilkan 15 liter. “Karena biaya pakan untuk sapinya dibagi dengan pemiliknya,” kata Harun sambil terkekeh. Dan keadaan ini bisa dirubah jika ada perubahan mendasar tentang pengembangan sapi perah. Misalnya pola makan dan pasokan gizi sapi yang harus dirubah. Juga sanitasi lingkungan dan kondisi peternakan yang memenuhi syarat.

Dari perbicangan ini kemudian muncul gagasan untuk membuat satu proyek percontohan untuk peningkatan susu sapi petani. “Caranya sapi-sapi petani dimasukkan dalam kandang khusus yang memenuhi syarat sanitasi dengan kualitas dan kuantitas nutrisi pakan yang cukup. Lihat perkembangan selama satu tahun dengan membandingkan dengan kondisi sebelumnya,” kata Heppy Trenggono. Heppy sendiri akan mengajak beberapa pengusaha yang memiliki komitmen untuk pengembangan kualitas kehidupan petani dan produksi dalam negeri. “Investasinya kan enggak seberapa juga, dan uangnya kita anggap hilang saja. Tapi begitu berhasil kita sebarkan ke semua petani sapi perah di tanah air,” ungkap Heppy. Heppy juga mengungkapkan pabrik-pabrik yang mengolah di sektor hilir sudah ada beberapa. Bahkan di Malang, lanjut Heppy sudah ada beberapa pengusaha kecil dan menengah yang mulai mengembangkan industri dairy produk ini.

Sebelumnya Pemimpin gerakan Beli Indonesia dan Tim berkunjung ke kawasan Sunter, Jakarta Utara. Kunjungan ditujukan ke kantor pusat PT. Triangle Motorindo yang memproduksi sepeda motor “Viar”. Sebuah perusahaan yang sudah komit mengembangkan otomotif dalam negeri. Perusahaan ini mampu menjual 6.000 unit sepeda motor per tahun. Angka yang lumayan di tengah merek-merek asing yang merajai pasar dalam negeri saat ini. “Bapak cukup bernyali mau bermain di tengah situasi pasar sepeda motor hari ini,” kata Heppy kepada, Husni, Managing Direktor perusahaan ini. Hasni mengakui banyak persoalan di lapangan yang menjadi hambatan pengembangan industri otomotif berbasis lokal. Mulai dari ketersediaan bahan baku yang sangat minim di dalam negeri, industry baja yang tidak sinkron dengan kepentingan industry dalam negeri hingga dukungan pemerintah yang sangat minim. “Sering kali bahan baku yang dikirim vendor kami dihambat di pelabuhan hingga beberapa bulan. Padahal semua persyaratan sudah terpenuhi,” ungkap Husni. Husni menambahkan, hambatan itu juga berupa penuntutan dari industri otomotif besar tentang beberapa komponen yang mereka buat. “Katanya kami melanggar hak cipta, biasanya mereka datang dengan membawa aparat,” ungkap Husni. Menurut Husni ada kesan bahwa industri dalam negeri itu sengaja dijegal dan dihalangi untuk berkembang.

“Sikap pemerintah yang tidak mendukung dan pasar yang belum berpihak itu karena orang kita belum tahu apa yang seharusnya mereka bela,” kata Heppy kemudian. Masyarakatpun tidak ditunjuk dan tidak diarahkan apa yang seharusnya mereka lakukan. Maka sebagian besar rakyat kita menganggap baik-baik saja dengan apa yang mereka lakukan hari ini. “Beli Indonesia itu adalah gerakan membangun pasarnya. Secara simultan kita juga harus membangun industrinya. Kuncinya ada di pasar. Jika pasar sudah berubah ke produk dalam negeri dengan sendirinya industri akan bertumbuh,” kata Heppy. Heppy juga menceritakan tentang perjalanan Beli Indonesia hingga saat ini yang sudah menjangkau hampir semua kalangan. Mulai dari pesantren hingga ke kampus-kampus, berbagai komunitas dan ormas hingga ke sejumlah pemda.

“Yes-yes…!” ungkapan ini yang keluar secara serentak dari managemen PT. Triangle setelah mendengar penjelasan Heppy Trenggono tentang gerakan Beli Indonesia. Mereka menyambut gembira dengan jari tangan terkepal dan menyatakan siap dengan gerakan ini. Pada bagian akhir, Pemimpin dan Tim Beli Indonesia diajak untuk melihat beberapa produk sepeda motor di showroom gedung itu.(AA)

Tags

Related Post

Leave a Comment